PROPOSAL KEGIATAN
SEMINAR SEHARI
KETAHANAN PANGAN DALAM ERA GLOBALISASI
BADAN PENGURUS HIMPUNAN MAHASISWA
JURUSAN
TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI KUPANG
2012
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
POLITEKNIK
PERTANIAN NEGERI KUPANG
BADAN PENGURUS
HIMPUNAN MAHASISWA JURUSAN ( BP. HMJ )
TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA ( TPH )
Sekretariat:
Kampus Politani Kupang, Jln. Adisucipto-Penfui Kupang NTT
Kupang,
08 Okltober 2012
Nomor : 01/BP.HMJ.TPH-PPNK/X/2012
Lampiran : 1 (Satu) Jepitan
Perihal : Permohonan Bantuan Dana Kegiatan
Kepada
Yth.
Direktur Dinas Ketahanan Pangan
Di-
Tempat
Dengan
hormat,
Sesuai
dengan perihal surat di atas, dengan ini kami Badan PengurusHimpunan Mahasiswa
Jurusan ( BP. HMJ )Tanaman Pangan dan Hortikultura ( TPH ) memohon kepada bapak
agar sekiranya dapat memberikan bantuan dana sesuai yang dibutuhkan guna menjawab kebutuhan
dalam melancarkan kegiatan “Seminar SehariKetahanan Pangan Dalam
Era Globalisasi’bagi mahasiswa Jurusan
Tanaman Pangan dan Hortikultura.
Berkaitan
dengan hal dimaksud, kami menyiapkan proposal ini
sebagai acuan dalam pertimbangan realisasi kebutuhan kegiatan dalam hal Finansial.
Demikian
permohonan ini kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya dihaturkan
limpah terima kasih.
Badan
Pengurus
Himpunan
Mahasiswa Jurusan
Tanaman
Pangan dan Hortikultura
Periode
2012/2013
Gubernur
Mahasiswa
Aprianus
Hale
|
Sekretaris
Marselinus
Nurak
|
an.Direktur
Pembantu
Direktur III
Bidang
Kemahasiswaan PPNK
Aydamel Takalapeta, STP,M.Si
NIP. 1961113 199703 1 001
|
Mengetahui
Presiden
Mahasiswa PPNK
Agustinus K.
Manobe
NIM
10 23 89 005
|
I. Dasar Pemikiran
Bersatu melawan kelaparan.Begitu
seruan Food Agriculture Organization (FAO), organisasi yang membidangi
masalah pangan dan pertanian di bawah PBB, saat perayaan Hari Pangan Sedunia
2010. Seruan kepada seluruh pihak ini tentu bukan tanpa alasan karena menurut
FAO sekitar 1 milyar populasi di muka bumi ini sedang mengalami kelaparan
akibat krisis pangan yang semakin akut sejak tahun 2008 dan terus menebar
ancaman kelaparan dan berbagai persoalan turunannya seperti tingkat aksi
kekerasan yang semakin meninggi hingga saat ini. Mara Baviera dan Walden Bello
mencatat bahwa pada tahun 2007-2008 sekitar 30 negara menghadapi aksi kekerasan
akibat melonjaknya harga bahan pokok. Diantara Negara-negara tersebut, antara
lain: Banglades, Burkina Faso, Kamerun, Pantai Gading, Mesir, Papua Nugini,
India, Indonesia, Mauritania, Mexico, Maroko, Mozambik, Senegal, Somalia,
Uzbekistan, and Yaman.
Wacana
yang mengemuka berkaitan dengan krisis pangan, yang hingga saat ini masih
menjadi persoalan krusial yang dihadapi masyarakat dunia, pada umumnya hanya
berkisar mengenai ketersediaan bahan pangan (food security). Sehingga
solusi penanganan krisis pun hanya berkisar pada program-program instan
berkaitan dengan pemenuhan bahan pangan yang sebenarnya justru belum menjawab
persoalan krusial krisis pangan. Bank Dunia, misalnya, kemudian menggelontorkan
portofolio sebesar 1.2 milyar dolar dalam bentuk pinjaman darurat (emergency
loans) untuk “perjanjian baru” mengenai agrikultur. FAO meminta (namun
akhirnya gagal dikabulkan) kepada pemerintah yang tergabung dalam OECD untuk
membiayai pengembangan pertanian di Negara-negara yang sedang berkembang. Lihat
juga apa yang dilakukan oleh filantropis sekaliber Bill Gates yang kemudian
mengajak serta beberapa perusahaan multinasional untuk bersamanya memasuki era
“kapitalisme kreatif” dengan membangun Aliansi untuk Revolusi Hijau di Afrika (Alliance
for a Green Revolution in Africa, AGRA) yang akan memberikan bibit baru dan
pupuk bagi jutaan petani miskin di Afrika.
Padahal
ancaman kelaparan yang membayangi 3 milyar populasi umat manusia akibat krisis
pangan ini justru karena ketidakmampuan untuk mengakses bahan pangan. Sekitar
separuh populasi di Negara-negara yang sedang berkembang yang berpenghasilan
kurang dari 2 dolar per hari, dan dari jumlah tersebut, kurang lebih 20 persen
hanya berpenghasilan kurang dari 1 dolar per hari adalah mereka yang tiap
harinya berkubang dalam kemiskinan hingga pada tingkat yang paling ekstrem (extreme
poverty) dan karenanya tidak memiliki daya untuk mengakses dan membeli
makanan yang cukup dan layak.
Sekelumit
fakta di atas, perlu dilihat bahwa persoalan krisis pangan mutakhir pada
dasarnya tidak bisa dilihat hanya selalu mengenai segala hal yang berkaitan
dengan ketersediaan bahan pangan.Wacana yang diusung untuk menjawab krisis ini
seharusnya melampaui perdebatan-perdebatan teknikal mengenai pangan dan
pertanian.Karena krisis pangan yang beberapa tahun belakangan mendapatkan
momentum “emas” nya pada dasarnya bukan merupakan hal yang baru.Ia adalah
warisan sistem produksi kolonial yang kemudian kembali dipicu oleh praktek
kebijakan pembangunan yang berbasis pada akumulasi kapital dan dominasi kelas
pemilik modal. Dengan demikian, maka perdebatan mengenai pilihan model
pembangunan yang diadopsi dan dipraktekkan berkaitan dengan politik pangan di
masing-masing Negara tentu menjadi relevan untuk dianalisa lebih lanjut.Apalagi
begitu banyak Negara yang akhirnya terjebak dalam krisis pangan mutakhir justru
adalah penghamba model pembangunan neoliberal yang kemudian mempraktekkan
kebijakan liberalisasi di sektor pertanian dan pangan masing-masing.
Praktek
liberalisasi ini kemudian membuka ruang yang begitu besar bagi dominasi sektor
privat dalam sistem produksi pangan dari hulu hingga hilir, yang melahirkan
rezim korporat pangan (food corporate regime).Dominasi inilah yang
digunakan untuk menentukan arah politik pangan global dimana produksi pangan
tidak diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan (need fulfillment), namun
diarahkan untuk kepentingan akumulasi kapital.Dan logika inilah yang kemudian
memicu terjadinya krisis pangan.Logika yang menjustifikasi monopoli terhadap
produksi dan akumulasi pangan yang menjadi penyebab melonjaknya harga pangan.
Efek
lanjutan dari dominasi ini adalah apa yang disebut sebagai de-peasantization.
Penguasaan kelompok korporat terhadap industri pangan dari hulu hingga hilir,
dari sistem produksi, distribusi hingga model konsumsi, yang kemudian
dilegitimasi oleh model politik pangan dalam negeri yang liberal, akhirnya
menegasikan hak petani atas lahan, dan proses produksi hingga konsumsi atas
produk pangan. Proses de-peasantization juga dilakukan oleh
negara-negara yang mengadopsi model pembangunan neoliberal dengan menerapkan
politik pangan yang berbasis pada logika pasar bebas. Kebijakan liberalisasi
sektor pertanian yang merupakan kesepakatan melalui lembaga perdagangan dunia
dan melalui bilateralisme ekonomi mendorong diberlakukannya berbagai kebijakan
seperti pencabutan subsidi pertanian, impor bahan pangan, dan berbagai
kebijakan lainnya yang kemudian mempengaruhi produktifitas petani dan akhirnya
berpengaruh pada pasokan produk yang mereka hasilkan.Dan yang memprihatinkan
bahwa seringkali karena tidak mampu berkompetisi dalam sistem produksi global
akhirnya kelompok petani kecil ini bertransformasi menjadi kelas urban yang
terbelit dalam kemiskinan dan paling rentan terhadap efek krisis pangan karena
penghasilan dan daya beli yang rendah.
Dengan
demikian, wacana mengenai politik pangan tidak bisa berhenti hanya pada
persoalan seberapa mampu sebuah Negara menjamin tersedianya pangan (food
security), namun juga menyangkut kemampuan untuk menentukan arah kebijakan
pangan yang berbasis pada pemenuhan kebutuhan dalam negeri dengan memusatkan
partisipasi petani dalam dalam rencana hingga praktek keseluruhan sistem
produksi hingga konsumsi menjadi penting dan mendesak untuk dikembangkan.
II. Nama Kegiatan
‘Seminar Sehari: Ketahanan Pangan
Dalam Era Globalisasi’ Jurusan Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH),
Politeknik Pertanian Negeri Kupang (Politani Kupang).
III. Tema
Tema dari kegiatan ini adalah,
“Mewujudkan Kedaulatan Pangan Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”.
IV. Maksud dan Tujuan
Tujuan diselenggarakannya kegiatan
ini adalah untuk mengembangkan pemikiran seluruh civitas akademikakota Kupang
terkait persoalan krisis pangan yang sering dialami negara-negara berkembang
terutama Indonesia.
V. Bentuk Kegiatan
Bentuk dari kegiatan ini adalah
seminar dan diskusi serta dialog antara pemateri (pembicara) dengan seluruh
civitas akademika yang berada di Politani Kupang.
VI. Waktu dan Tempat
Acara
ini akan diselenggarakan pada:
Hari/tanggal : Selasa,16 Oktober 2012
Waktu : Pukul 09.00 WITA sampai selesai
Tempat : Kampus Politeknik Pertanian Negeri
Kupang
Jln.
Adisucipto
Penfui Kupang (NTT)
VII. Peserta Kegiatan
Peserta
kegiatan seminar ini adalah seluruh mahasiswa Jurusan Tanaman Pangan dan
Hortikultura yang berjumlah 280 orang dan undangan dari jurusan serta kampus
lain dengan jumlah 50 Orang. Secara
keseluruhan jumlah peserta kegiatan ini 330 Orang
VII. Anggaran Kegiatan
Anggaran yang
dibutuhkan untuk kegiatan ini yaitu berjumlah Rp.6.362.000 (Enam Juta Tiga Ratus Enam Puluh Dua Ribu
Rupih), rincian anggaran kegiatanterlampir.
VIII. Penutup
Demikian rancangan kegiatan ini kami
buat sebagai bahan acuan bagi pelaksanaan acara Seminar Sehari Jurusan Tanaman
Pangan dan Hortikultura (TPH) Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Semoga
kegiatan ini bisa memberikan manfaat dan memperoleh sambutan serta kerjasama
yang baik dari berbagai pihak.
LAMPIRAN
RINCIAN ANGGARAN KEGIATAN
SEMINAR SEHARI
“KETAHANAN PANGAN DALAM ERA
GLOBALISASI”
No
|
URAIAN
KEBUTUHAN
|
VOLUME
|
SATUAN
(Rp)
|
JUMLAH
(Rp)
|
1.
|
Kesekretariatan
dan Acara
|
|
|
|
a.
Kertas HVS
|
3
rim
|
40.000
|
120.000
|
|
b.
Amplop
|
3
dos
|
12.000
|
36.000
|
|
c.
Belpoin Faster
|
1
dos
|
36.000
|
36.000
|
|
d.
Tinta Warna
|
1dos
|
50.000
|
50.000
|
|
e.
Tinta Hitam
|
1 dos
|
40.000
|
40.000
|
|
f.
Fotocopy Berkas-Berkas
|
1 paket
|
250.000
|
825.000
|
|
g.
Sertifikat Kegiatan
|
330 buah
|
2500
|
250.000
|
|
Jumlah
|
1.022.000
|
|||
2.
|
Perlengkapan Dan Transportasi
|
|
|
|
a.
Baliho
|
1buah
|
250.000
|
250.000
|
|
b.
Transportasi Pemateri Dari
Jakarta PP
|
3 Orang
|
400.000
|
1.200.000
|
|
Jumlah
|
2.450.000
|
|||
3.
|
Humas dan Dokumentasi
:
|
|
|
|
a.
Sewa Kamera
|
1 buah
|
50.000
|
50.000
|
|
Jumlah
|
50.000
|
|||
4.
|
Biaya Konsumsi
|
|
|
|
a.
Beli ubi kayu
|
100 Tumpuk
|
5.000
|
500.000
|
|
b.
Beli Jagung
|
100 Kg
|
3.000
|
300.000
|
|
c.
Gula
|
20 Kg
|
12.000
|
240.000
|
|
d.
Kacang Tanah
|
50 Kg
|
15.000
|
750.000
|
|
e.
Kopi Tugu Buaya
|
10 Kipas
|
15.000
|
150.000
|
|
f.
Kelapa
|
25 Buah
|
2000
|
50.000
|
|
g.
Beli Minyak Tanah
|
10 Liter
|
5.000
|
50.000
|
|
h.
Kotak Snek
|
350 buah
|
2.000
|
700.000
|
|
Jumlah
|
2.840.000
|
|||
TOTAL
|
6.362.000
|