Selasa, 07 Mei 2013

Proposal Kegiatan Seminar Memperingati Hari Pangan Sedunia


 PROPOSAL KEGIATAN



SEMINAR SEHARI
KETAHANAN PANGAN DALAM ERA GLOBALISASI



BADAN PENGURUS HIMPUNAN MAHASISWA JURUSAN
TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI KUPANG
2012





KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
            POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI KUPANG
BADAN PENGURUS
HIMPUNAN MAHASISWA JURUSAN ( BP. HMJ )
TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA ( TPH )
Sekretariat: Kampus Politani Kupang, Jln. Adisucipto-Penfui Kupang NTT


                                                                                                Kupang, 08 Okltober 2012
Nomor             : 01/BP.HMJ.TPH-PPNK/X/2012                 
Lampiran         : 1 (Satu) Jepitan
Perihal             : Permohonan Bantuan Dana Kegiatan

Kepada
Yth. Direktur Dinas Ketahanan Pangan
Di-
Tempat

Dengan hormat,
Sesuai dengan perihal surat di atas, dengan ini kami Badan PengurusHimpunan Mahasiswa Jurusan ( BP. HMJ )Tanaman Pangan dan Hortikultura ( TPH ) memohon kepada bapak agar sekiranya dapat memberikan bantuan dana  sesuai yang dibutuhkan guna menjawab kebutuhan dalam melancarkan kegiatan “Seminar SehariKetahanan Pangan Dalam Era Globalisasi’bagi mahasiswa Jurusan Tanaman Pangan dan Hortikultura.
Berkaitan dengan hal dimaksud, kami menyiapkan proposal ini sebagai acuan dalam pertimbangan realisasi kebutuhan kegiatan dalam hal Finansial.
Demikian permohonan ini kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya dihaturkan limpah terima kasih.

Badan Pengurus
Himpunan Mahasiswa Jurusan
Tanaman Pangan dan Hortikultura
Periode 2012/2013
Gubernur Mahasiswa


Aprianus Hale
Sekretaris


Marselinus Nurak

          an.Direktur
Pembantu Direktur III
Bidang Kemahasiswaan PPNK


Aydamel Takalapeta, STP,M.Si
NIP. 1961113 199703 1 001
Mengetahui
Presiden Mahasiswa PPNK



Agustinus K. Manobe
   NIM 10 23 89 005



I. Dasar Pemikiran
Bersatu melawan kelaparan.Begitu seruan Food Agriculture Organization (FAO), organisasi yang membidangi masalah pangan dan pertanian di bawah PBB, saat perayaan Hari Pangan Sedunia 2010. Seruan kepada seluruh pihak ini tentu bukan tanpa alasan karena menurut FAO sekitar 1 milyar populasi di muka bumi ini sedang mengalami kelaparan akibat krisis pangan yang semakin akut sejak tahun 2008 dan terus menebar ancaman kelaparan dan berbagai persoalan turunannya seperti tingkat aksi kekerasan yang semakin meninggi hingga saat ini. Mara Baviera dan Walden Bello mencatat bahwa pada tahun 2007-2008 sekitar 30 negara menghadapi aksi kekerasan akibat melonjaknya harga bahan pokok. Diantara Negara-negara tersebut, antara lain: Banglades, Burkina Faso, Kamerun, Pantai Gading, Mesir, Papua Nugini, India, Indonesia, Mauritania, Mexico, Maroko, Mozambik, Senegal, Somalia, Uzbekistan, and Yaman.
            Wacana yang mengemuka berkaitan dengan krisis pangan, yang hingga saat ini masih menjadi persoalan krusial yang dihadapi masyarakat dunia, pada umumnya hanya berkisar mengenai ketersediaan bahan pangan (food security). Sehingga solusi penanganan krisis pun hanya berkisar pada program-program instan berkaitan dengan pemenuhan bahan pangan yang sebenarnya justru belum menjawab persoalan krusial krisis pangan. Bank Dunia, misalnya, kemudian menggelontorkan portofolio sebesar 1.2 milyar dolar dalam bentuk pinjaman darurat (emergency loans) untuk “perjanjian baru” mengenai agrikultur. FAO meminta (namun akhirnya gagal dikabulkan) kepada pemerintah yang tergabung dalam OECD untuk membiayai pengembangan pertanian di Negara-negara yang sedang berkembang. Lihat juga apa yang dilakukan oleh filantropis sekaliber Bill Gates yang kemudian mengajak serta beberapa perusahaan multinasional untuk bersamanya memasuki era “kapitalisme kreatif” dengan membangun Aliansi untuk Revolusi Hijau di Afrika (Alliance for a Green Revolution in Africa, AGRA) yang akan memberikan bibit baru dan pupuk bagi jutaan petani miskin di Afrika.
            Padahal ancaman kelaparan yang membayangi 3 milyar populasi umat manusia akibat krisis pangan ini justru karena ketidakmampuan untuk mengakses bahan pangan. Sekitar separuh populasi di Negara-negara yang sedang berkembang yang berpenghasilan kurang dari 2 dolar per hari, dan dari jumlah tersebut, kurang lebih 20 persen hanya berpenghasilan kurang dari 1 dolar per hari adalah mereka yang tiap harinya berkubang dalam kemiskinan hingga pada tingkat yang paling ekstrem (extreme poverty) dan karenanya tidak memiliki daya untuk mengakses dan membeli makanan yang cukup dan layak.
            Sekelumit fakta di atas, perlu dilihat bahwa persoalan krisis pangan mutakhir pada dasarnya tidak bisa dilihat hanya selalu mengenai segala hal yang berkaitan dengan ketersediaan bahan pangan.Wacana yang diusung untuk menjawab krisis ini seharusnya melampaui perdebatan-perdebatan teknikal mengenai pangan dan pertanian.Karena krisis pangan yang beberapa tahun belakangan mendapatkan momentum “emas” nya pada dasarnya bukan merupakan hal yang baru.Ia adalah warisan sistem produksi kolonial yang kemudian kembali dipicu oleh praktek kebijakan pembangunan yang berbasis pada akumulasi kapital dan dominasi kelas pemilik modal. Dengan demikian, maka perdebatan mengenai pilihan model pembangunan yang diadopsi dan dipraktekkan berkaitan dengan politik pangan di masing-masing Negara tentu menjadi relevan untuk dianalisa lebih lanjut.Apalagi begitu banyak Negara yang akhirnya terjebak dalam krisis pangan mutakhir justru adalah penghamba model pembangunan neoliberal yang kemudian mempraktekkan kebijakan liberalisasi di sektor pertanian dan pangan masing-masing.
            Praktek liberalisasi ini kemudian membuka ruang yang begitu besar bagi dominasi sektor privat dalam sistem produksi pangan dari hulu hingga hilir, yang melahirkan rezim korporat pangan (food corporate regime).Dominasi inilah yang digunakan untuk menentukan arah politik pangan global dimana produksi pangan tidak diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan (need fulfillment), namun diarahkan untuk kepentingan akumulasi kapital.Dan logika inilah yang kemudian memicu terjadinya krisis pangan.Logika yang menjustifikasi monopoli terhadap produksi dan akumulasi pangan yang menjadi penyebab melonjaknya harga pangan.
            Efek lanjutan dari dominasi ini adalah apa yang disebut sebagai de-peasantization. Penguasaan kelompok korporat terhadap industri pangan dari hulu hingga hilir, dari sistem produksi, distribusi hingga model konsumsi, yang kemudian dilegitimasi oleh model politik pangan dalam negeri yang liberal, akhirnya menegasikan hak petani atas lahan, dan proses produksi hingga konsumsi atas produk pangan. Proses de-peasantization juga dilakukan oleh negara-negara yang mengadopsi model pembangunan neoliberal dengan menerapkan politik pangan yang berbasis pada logika pasar bebas. Kebijakan liberalisasi sektor pertanian yang merupakan kesepakatan melalui lembaga perdagangan dunia dan melalui bilateralisme ekonomi mendorong diberlakukannya berbagai kebijakan seperti pencabutan subsidi pertanian, impor bahan pangan, dan berbagai kebijakan lainnya yang kemudian mempengaruhi produktifitas petani dan akhirnya berpengaruh pada pasokan produk yang mereka hasilkan.Dan yang memprihatinkan bahwa seringkali karena tidak mampu berkompetisi dalam sistem produksi global akhirnya kelompok petani kecil ini bertransformasi menjadi kelas urban yang terbelit dalam kemiskinan dan paling rentan terhadap efek krisis pangan karena penghasilan dan daya beli yang rendah.
            Dengan demikian, wacana mengenai politik pangan tidak bisa berhenti hanya pada persoalan seberapa mampu sebuah Negara menjamin tersedianya pangan (food security), namun juga menyangkut kemampuan untuk menentukan arah kebijakan pangan yang berbasis pada pemenuhan kebutuhan dalam negeri dengan memusatkan partisipasi petani dalam dalam rencana hingga praktek keseluruhan sistem produksi hingga konsumsi menjadi penting dan mendesak untuk dikembangkan.

II. Nama Kegiatan
            ‘Seminar Sehari: Ketahanan Pangan Dalam Era Globalisasi’ Jurusan Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH), Politeknik Pertanian Negeri Kupang (Politani Kupang).
III. Tema
            Tema dari kegiatan ini adalah, “Mewujudkan Kedaulatan Pangan Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”.

IV. Maksud dan Tujuan
            Tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah untuk mengembangkan pemikiran seluruh civitas akademikakota Kupang terkait persoalan krisis pangan yang sering dialami negara-negara berkembang terutama Indonesia.



V. Bentuk Kegiatan
            Bentuk dari kegiatan ini adalah seminar dan diskusi serta dialog antara pemateri (pembicara) dengan seluruh civitas akademika yang berada di Politani Kupang.

VI. Waktu dan Tempat
            Acara ini akan diselenggarakan pada:
            Hari/tanggal    : Selasa,16 Oktober 2012
            Waktu             : Pukul 09.00 WITA sampai selesai
            Tempat            : Kampus Politeknik Pertanian Negeri Kupang
                                    Jln. Adisucipto Penfui Kupang (NTT)

VII. Peserta Kegiatan
            Peserta kegiatan seminar ini adalah seluruh mahasiswa Jurusan Tanaman Pangan dan Hortikultura yang berjumlah 280 orang dan undangan dari jurusan serta kampus lain dengan  jumlah 50 Orang. Secara keseluruhan jumlah peserta kegiatan ini 330 Orang
VII. Anggaran Kegiatan
            Anggaran yang dibutuhkan untuk kegiatan ini yaitu berjumlah Rp.6.362.000 (Enam Juta Tiga Ratus Enam Puluh Dua Ribu Rupih), rincian anggaran kegiatanterlampir.





VIII. Penutup
            Demikian rancangan kegiatan ini kami buat sebagai bahan acuan bagi pelaksanaan acara Seminar Sehari Jurusan Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Semoga kegiatan ini bisa memberikan manfaat dan memperoleh sambutan serta kerjasama yang baik dari berbagai pihak.






LAMPIRAN
RINCIAN ANGGARAN KEGIATAN
SEMINAR SEHARI
KETAHANAN PANGAN DALAM ERA GLOBALISASI



No
URAIAN KEBUTUHAN
VOLUME
SATUAN (Rp)
JUMLAH (Rp)
1.
Kesekretariatan dan Acara



a.       Kertas HVS
3 rim
40.000
120.000
b.      Amplop
3 dos
12.000
36.000
c.       Belpoin Faster
1 dos
36.000
36.000
d.      Tinta Warna
1dos
50.000
50.000
e.       Tinta Hitam
1 dos
40.000
40.000
f.       Fotocopy Berkas-Berkas
1 paket
250.000
825.000
g.      Sertifikat Kegiatan
330 buah
2500
250.000
Jumlah
1.022.000
2.
Perlengkapan Dan Transportasi



a.       Baliho
1buah
250.000
250.000
b.      Transportasi Pemateri Dari Jakarta PP
3 Orang
400.000
1.200.000
Jumlah
2.450.000
3.
Humas dan Dokumentasi :



a.       Sewa Kamera
1 buah
50.000
50.000
Jumlah
50.000
4.
Biaya Konsumsi



a.       Beli ubi kayu
100 Tumpuk
5.000
500.000
b.      Beli Jagung
100 Kg
3.000
300.000
c.       Gula
20 Kg
12.000
240.000
d.      Kacang Tanah
50 Kg
15.000
750.000
e.       Kopi Tugu Buaya
10 Kipas
15.000
150.000
f.       Kelapa
25 Buah
2000
50.000
g.      Beli Minyak Tanah
10 Liter
5.000
50.000
h.      Kotak Snek
350 buah
2.000
700.000
Jumlah
2.840.000
TOTAL
6.362.000






"Semoga Bermanfaat"

 

 

By: Jofan Hale